Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Cara Menentukan Bilangan Oksidasi - Kima Kelas 10

menentukan bilangan oksidasi

Cecepkocep.comSebelumnya kamu sudah tahu ya kalau inti atom itu dikelilingi oleh elektron. Elektron yang mengelilingi inti atom juga tersebar sesuai dengan orbitnya masing-masing. Elektron yang berada di orbit paling luar atau paling jauh dari inti atom disebut elektron valensi.

Jumlah elektron yang ada di sekeliling atom juga akan membuatnya stabil atau tidak. Suatu atom dikatakan stabil jika memiliki elektron valensi berjumlah 2 dan 8. Atom-atom yang berada di golongan VIIIA atau unsur gas mulia sudah bersifat stabil.

Semua atom tentu saja juga ingin stabil seperti halnya unsur-unsur gas mulia. Untuk membuatnya stabil, mereka akan melakukan interaksi dengan atom lain dengan cara membentuk ikatan.

Interaksi yang dilakukan oleh atom-atom yang tidak stabil yaitu dengan melakukan transfer elektron. Atom yang kekurangan elektron akan menerima elektron untuk membuatnya stabil. Sementara tom yang kelebihan elektron akan melepaskan elektronnya ke atom yang kekurangan elektron.

Serah terima elektron ini akan membuat atom memiliki muatan baik muatan positif maupun negatif. Atom yang melepaskan elektron akan bermuatan positif. Sementara yang menerima elektron akan memiliki muatan negatif.

Muatan dari setiap atom itu berbeda-beda tergantung dari jumlah elektron yang mereka terima atau transfer. Nah, jumlah muatan positif dan negatif pada suatu atom itu disebut dengan bilangan oksidasi (biloks).

Oh iya, biloks ini adalah materi dasar dari reaksi redoks (reduksi-oksidasi) yang nantinya akan kamu pelajari di materi-materi selanjutnya. Jadi saya berharap kamu harus memahami materi ini sebaik mungkin supaya proses pembelajaran kamu di pembahasannya juga menjadi lebih mudah.

Aturan Menentukan Bilangan Oksidasi

Dalam menentukan bilangan biloks tentu tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Ada 8 aturan yang harus kamu ketahui dalam menentukan bilangan oksidasi atom. Yuk kita pelajari kedelapan aturan tersebut di bawah ini.

1. Biloks Unsur Bebas Adalah 0

Semua unsur-unsur bebas memiliki bilangan oksidasi 0. Oh iya, unsur bebas sendiri merupakan unsur-unsur yang tidak tidak berikatan secara kimia dengan unsur lainnya.

Unsur-unsur bebas juga diklasifikasikan ke dalam dua golongan yaitu unsur bebas berbentuk atom dan berbentuk molekul. Contoh unsur bebas atom adalah C, Ca, Cu, Fe, Na, Al, dan Ne. Sementara unsur bebas berbentuk molekul contohnya adalah H2, Cl2, O2, dan P4.

Jika kamu menemukan unsur-unsur tersebut, sudah bisa dipastikan kalau bilangan oksidasinya adalah 0.

2. Biloks Ion Monoatom dan Poliatom Sesuai dengan Jenis Muatan Ionnya

Untuk ion baik monoatom maupun poliatomik biloksnya ditentukan berdasarkan jumlah muatannya. Ion Monoatom merupakan ion yang berbentuk atom seperti Na+, Mg2+ dan Al3+. Sementara ion poliatom terdiri dari 2 atom atau lebih, contohnya adalah NH4+, SO42-, dan PO43-.

Nah, biloks ion baik monoatom maupun poliatom ditentukan oleh jenis muatannya. Misalnya ion Na+, Mg2+, dan Al3+ memiliki biloks berturut-turut +1, +2, dan +3.

Untuk ion NH4+, SO42-, dan PO43- memiliki biloks berturut-turut +1, -2, dan -3.

3. Biloks Untuk Golongan Logam sesuai dengan Golongannya

Kamu sudah tahu kan unsur-unsur logam itu apa saja? Ya, semua unsur-unsur yang ada di golongan IA sampai IIIA adalah logam. Nah, biloks untuk unsur-unsur ini sesuai dengan golongannya masing-masing.

  • Golongan IA: H, Li, Na, K, Rb, Cs, Fr memiliki biloks +1
  • Golongan IIA: Be, Mg, Ca, Sr, Ba, Ra memiliki biloks +2
  • Golongan IIIA: B, Al, Ga, In, Tl memiliki biloks +3

Contoh soal:

Tentukan bilangan oksidasi untuk senyawa Al dalam senyawa Al2O3!

Al adalah unsur logam yang berada di golongan IIIA. Maka sudah dipastikan kalau biloks Al ini adalah +3.

4. Biloks Unsur Golongan Transisi (Gol B) adalah Lebih Dari 1

Untuk atom-atom transisi yang berada di golongan B pada periodic unsur memiliki biloks lebih dari satu. Misalnya untuk atom Cu memiliki biloks +1 dan +2. Kemudian Au memiliki biloks +1 dan +3.

5. Biloks Unsur-Unsur yang Membentuk Ion adalah Sesuai dengan Jumlah Muatannya.

Untuk unsur-unsur yang membentuk ion, maka biloksnya sesuai dengan jumlah muatannya. Misalnya ion NH4+ memiliki biloks +1.

Pada kasus seperti ini, biasanya yang akan ditanyakan bukan biloks ionnya, tapi biloks unsur penyusun ion tersebut. Misalnya berapakah biloks unsur N pada ion NH4+?

Biloks untuk atom H adalah +1. Pada ion NH4+, atom H memiliki indeks 4, maka dikalikan dengan indeks 4. Karena biloks untuk ion NH4+ adalah +1, maka biloks N harus -3. Sehingga jika nantinya dijumlahkan dengan atom H, maka hasilnya adalah +1.

6. Jumlah Biloks Unsur-Unsur yang Membentuk Senyawa adalah 0

Untuk unsur-unsur yang membentuk senyawa memiliki biloks 0, misalnya adalah senyawa H2O. Dalam soal, biasanya akan ditanyakan biloks penyusunnya seperti berapa biloks atom O pada senyawa H2O?

Karena H2O adalah senyawa, maka sudah dipastikan kalau biloksnya adalah 0. Karena berada di golongan IA, maka H memiliki biloks +1. Unsur tersebut memiliki indeks 2, maka biloksnya harus dikalikan dengan indeks 2 sehingga hasilnya jadi +2.

Supaya jumlah biloks H dan O berjumlah 0, maka biloks Oksigen harus bernilai -2. Maka biloks O pada senyawa H2O adalah -2.

7. Biloks H Adalah -1 dan +1

Biloks atom Hidrogen akan memiliki bilangan oksidasi -1 dan +1 sesuai dengan siapa dia berikatan. Jika berikatan dengan logam, maka atom H memiliki biloks -1. Sementara jika berikatan dengan non-logam, maka biloks H bernilai +1.

Misal, tentukan biloks H pada senyawa AlH3!

Jika kita identifikasi, atom Al ini termasuk golongan IIIA, maka sudah dipastikan kalau Al ini adalah unsur logam. Berarti atom Al ini memiliki biloks +3.

Mengacu pada aturan nomor 6, unsur-unsur yang membentuk senyawa akan memiliki biloks 0. Sehingga jika biloks atom Al dan H dijumlahkan harus bernilai 0. Sehingga biloks H pada senyawa AlH3 itu harus bernilai -3.

Pada senyawa tersebut, atom H memiliki indeks 3. Sehingga biloksnya harus dibagi 3. Maka biloks H pada senyawa AlH3 itu adalah -1.

8. Biloks O Dalam adalah -1 dan +1

Atom O juga bisa memiliki biloks -1 dan +1 sama seperti halnya pada atom H. Atom O akan memiliki biloks -1 jika berada dalam senyawa Peroksida. Biloks O akan bernilai +1 jika berada dalam senyawa Non-Peroksida.

Misal, tentukan biloks atom O pada senyawa BaO2!

Kita identifikasi terlebih dahulu atom Ba. Atom Ba ini berada di golongan IIA pada sistem periodik unsur. Sehingga biloks untuk atom Ba ini adalah +2.

Kemudian unsur-unsur dalam senyawa harus bernilai 0 (sesuai dengan aturan nomor 6). Supaya berjumlah 0, maka atom O harus memiliki biloks -2.

Karena atom O pada BaO2 ini memiliki indeks 2, maka -2 harus dibagi dengan 2. Sehingga biloks atom oksigen pada senyawa BaO2 adalah -1.

Bagaimana? Apakah sudah paham dengan penjelasan di atas? Supaya makin paham, kamu harus sering berlatih dengan cara mengerjakan soal-soal. Saya kasih soal nih yang harus kamu jawab.

TUGAS!

Tentukan biloks masing-masing atom pada senyawa Fe2(SO3)3!

Silahkan jawabannya kamu tulis di kolom komentar dan kasih juga alasannya ya. Jika ada pertanyaan, jangan sungkan untuk menanyakannya juga di komentar.

Itulah sedikit pembahasan dari mengenai cara menentukan bilangan oksidasi. Semoga penjelasan di atas bisa bermanfaat dan jangan lupa untuk terus belajar dan berlatih. Terima kasih. 


Cecepkocep
Cecepkocep Breaks the Limits!

Berlangganan via Email